Site Overlay

Pentingnya Edukasi Seksual Bagi Anak, Tidak Ada Lagi Kata “Tabu”

Pentingnya Edukasi Seksual Bagi Anak, Tidak Ada Lagi Kata “Tabu” – Sejak dahulu, bahkan jauh sebelum masa kemerdekaan, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terjajah secara fisik dan mental oleh para bangsa asing. Selain dampak material, dampak moral juga cukup merugikan para pribumi, khususnya bagi para perempuan. Terlebih lagi pada masa kolonial Jepang, dimana 3 tahun adalah masa yang paling kelam sekaligus kejam bagi masyarakat Indonesia kala itu. Sejumlah kurang lebih 200.000 gadis pribumi diculik dan dijadikan budak seks para militer Jepang. Perbudakan seks Jepang ini disebut dengan istilah “ianfu”. Mengerikan sekali, bahkan istilahnya sudah ada dikhususkan pada saat itu.

Seolah tak pernah rampung, kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi kepada para perempuan Indonesia terus menghantui para perempuan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Mereka tidak tahu kapan, dimana dan lelaki mana yang suatu saat dapat mencelakai dirinya. Tindakan kekerasan seksual terus terjadi di Indonesia mungkinkah diperkuat karena faktor regulasi yang belum valid? Mungkin saja. Karena hingga saat ini Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS bahkan belum mendapat pengesahan dari eksekutif terkait.

Kasus-kasus kekerasan seksual seharusnya tidak lagi terjadi dalam hidup bermasyarakat. Terlebih lagi bagi mereka yang berada di usia remaja, usia yang sangat berantusias seputar dunia seksualitas. Jangan sampai Anda membiarkan para pelaku kejahatan memanfaatkan masa-masa ini untuk menyalurkan kejahatannya. Untuk itu, pentingnya pendidikan seksual sejak dini harus diterapkan kepada anak atau kerabat Anda sedini mungkin. Jika sebelumnya pendidikan semacam ini dianggap tabu dan terus menerus dihindari denga dalih “nanti saja menunggu usia yang tepat”, maka kini saatnya Anda merubah mindset Anda. pendidikan seksual bukanlah hal yang tabu selagi kita menyampaikannya dengan benar dan disesuaikan dengan usia sasaran.

1. Dimulai dari citra tubuh
Menurut psikolog, edukasi seksual dapat diajarkan mulai dari usia 1 tahun. Pada usia ini, cara mengedukasi anak seputar seksualitas adalah dimulai dari pengenalan sederhana organ-organ seksual milik anak. beritahu letak-letaknya agar setidaknya anak paham jika organ-organ tersebut adalah termasuk organ yang harus ditutup dan tidak boleh disentuh orang lain. Berlanjut pada usia balita 3 – 5 tahun, orang tua mulai mengenalkan fungsi-fungsi organ repdouksinya. Dilanjut usia 6 sampai 8 tahun anak harus diberi pemahaman jika laki-laki dan perempuan memiliki organ seksual yang berbeda dan masing-masing harus saling menjaga.

2. Dampingi Anak Hingga Remaja dalam Proses Seksual
Sebagain besar kesalahan orang tua dalam mengajarkan anak remajanya adalah serta merta secara pasrah membiarkan anak belajar pendidikan seksual melalui sekolah saja. Padahal, proses pembelajaran yang paling efektif adalah belajar bersama orang terdekat denga lingkungan nyaman. Jangan sampai orang tua kecolongan anak remajanya mempelejari pendidikan seksual sendiri tanpa dampingan Anda. jadilah kawan curhatnya dan bersikap lebih terbuka pada anak agar anak dapat bersikap terbuka juga pada Anda. dengan begitu, proses pemantauan pada anak dapat berjalan lebih enak dan nyaman.

3. Ajarkan Self Esteem
Menurut studi penelitian, self esteem yang rendah berpengaruh pada terjadinya kekerasan seksual. Seringkali dijumpai perilaku menyimpang pada remaja adalah karena kurang terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dari orang tuanya sehingga menyebabkan anak cenderung tertutup sambil terus mempertanyakan jati diri dan keberadaannya. Jika sudah begini, akan semakin mempermudah para pelaku kejahatan seksual dalam memperluas target sasarannya. Oleh karena itu, ajarkan self-love pada anak sedini mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!